Thursday, May 22, 2008

Second Chance(s)

Sebagai manusia, tentunya kita tidak pernah luput dari kesalahan, baik yang disengaja maupun yang tak disengaja. Kita sebagai anak-anak Tuhan sudah sepantasnya selalu mencoba membuat Bapa kita tersenyum bangga. Kita berusaha sebaik-baiknya untuk selalu menyenangkan Dia dengan tidak jatuh dalam dosa.

Beberapa minggu terakhir ini, saya menemukan diri saya berjanji pada diri sendiri dan Tuhan bahwa saya ingin menjadi orang yang lebih baik. Saya janji tidak ngegosip di kantor, tidak menjelek-jelekkan orang lain, rajn bangun lebih pagi buat quiet time, tidak memakai uang untuk shopping melainkan untuk charity, selalu bersyukur apapun situasi dan kondisi saya, tidak egois memikirkan diri sendiri, lebih peka terhadap persoalan orang lain, dan pengontrolan diri yang maha dashyat!

Dan manusia memang makhluk yang sungguh menyebalkan, bukan?

Satu hari saya sukses tidak ngegosip, pastinya Tuhan tepuk tangan diatas sana - turut merayakan, turut bergembira, YAY! - only to find out that keesokan harinya, si A dari kantor sebelah bilang, "Ugh! Don't you just hate that annoying lady in accounting?" - yang lantas disambut dengan penuh semangat oleh saya, "Oh dude. Don't get me started on that one!" yang lantas berlanjut menjadi 10 minutes of character assassination.

Tuhan pun menundukkan kepala, bermuram durja.

"I was so good yesterday," saya membatin.
"What happened today?"


Today... is another day, Nit.
Today is another story.

Dengan amat mudah kita bisa terperosok dalam dosa dan dengan malas kita bisa bilang bahwa kita tidak perlu repot-repot keluar dari lubang ini. "Untuk apa? Nantinya pasti saya juga jatuh lagi. Daripada sakit jatuh berulang-ulang, mendingan saya diam dan tinggal disini saja. Bukankah ini hal yang sangat masuk di akal? Kalau sudah berada dalam lubang dosa, bagaimana kita bisa 'jatuh' lagi ke dalam dosa?"

Kita tahu bahwa pengampunan Tuhan baru setiap pagi. Setiap hari kita diberikan kesempatan kedua, untuk redeem ourselves - untuk bangkit lagi, berubah menjadi lebih baik. Mungkin kita berhasil dengan gemilang, mungkin juga kita gagal total. Tapi percayalah, Tuhan tidak melihat berhasil atau tidaknya usaha kita tersebut. Tuhan melihat hati kita, kemauan kita. Apakah kita senantiasa berkeinginan untuk menyenangkan Dia? Apakah kita berusaha dengan seluruh badan, pikiran, dan jiwa kita untuk melakukan kehendakNya? Apakah kita menerima dan menggunakan kasihNya yang selalu baru setiap hari untuk bertumbuh semakin dekat denganNya?

Seberapa sering sih kita manusia memberikan kesempatan kedua terhadap orang yang telah menyakiti kita? Si A pernah bohong, si B tukang maling, si C tukang tipu. Adalah bodoh jika setelah kita mengetahui fakta ini, kita langsung percaya semua perkataan A, meninggalkan B di rumah kita sendirian, dan meminjamkan uang kepada C. Tidak, kita tidak mau lagi disakiti. No second chance for them; absolute NO NO!

Lantas, apa Tuhan bodoh? Apa Tuhan bodoh memberikan kita kesempatan kedua setelah beracap kali kita mengecewakan Dia? (yang, by the way, bukan hanya sekali saja lho... mungkin lebih tepat kalau dibilang Tuhan memberikan kita kesempatan ke lima-belas-milyar kalinya untuk memperbaiki diri).

AnugerahNya baru setiap pagi. Kesempatan kedua itu datang ketika kita membuka mata setiap pagi. Dan Tuhan tidak bodoh memberikan kita kesempatan kedua tersebut walau sudah berulang kali kita mengecewakan Dia. Dia memberikannya karena cintaNya yang teramat besar kepada kita semua.

Bukankah itu pengorbanan yang paling berarti? Cinta tak bersyarat, this thing called "unconditional love"? Yang menjadi alasan mengapa Yesus Kristus mati di kayu salib untuk saya, kamu, dan mereka.

1 comment:

nitsnitz said...

ren, nih gw post :) tapi entry yang sama ya secara gw belon ada inspirasi lagi buat nulis another one.